Minggu, Oktober 2

Pudarnya Olahraga Tradisional di Negeriku


P
udarnya olahraga tradisional sekarang memang sedang berlangsung secara berangsur-angsur di Negeriku “Indonesia”. Khususnya untuk di kota-kota besar seperti Jakarta, Palembang, dll. Banyak hal yang mempengaruhi pudarnya olahraga tradisional ini, misalkan perkembangan teknologi. Terus berkembangnya teknologi berdampak pada seluruh aspek salah satunya adalah olahraga tradisional. Hal ini dapat dilihat dari permainan anak-anak yang semakin canggih misalkan saja Playstation, hingga video game di ponsel, membuat anak-anak tergila-gila menggandrungi permainan ini setiap hari. Kemudian munculnya game online yang dapat membuat anak tidak pulang ke rumahnya hanya untuk bermain di dunia internet dengan teman mayanya.
 
Dampak negatif ini membuat sang anak semakin lupa dengan kehidupan sosial,jarang bermain dengan teman-temannya, karena lebih suka bermain dengan video game atau komputer. Parahnya lagi, permainan tradisional anak semakin pudar dari tahun ke tahun. Keprihatinan ini dirasakan oleh siswa SMA N 1 Belitang yang bernama Yovia Rizki Arrahman(15). Karena keprihatinannya ini siswa tersebut melakukan pameran foto sekaligus mensosialisasikan olahraga-olahraga tradisional misalkan saja benteng-bentengan, dll.

Pameran foto mengenai olahraga tradisional ini berlangsung pada 1 Oktober 2011 sampai dengan 2 Oktober 2011, pameran ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat khususnya anak-anak, kalau olahraga tradisional lebih bernilai sosial bagi perkembangan anak dibandingkan dengan playstation, video games,dll. Kalau main video game anak tidak merasakan bagaimana perasaan apabila kita menang dan kalah . Tapi kalau di olahraga tradisional, seperti benteng-bentengan, anak diajarkan untuk merasakan bagaimana perasaan kalah dan bagaimana perasaan menang yang sesungguhnya. 

Pameran foto ini berlokasi di Desa Rantau Jaya, Pameran mengenai olahraga ini merupakan foto bercerita, dalam pengambilan foto ini, Yovia(15) selaku ketua dalam pameran ini membagi kelompok dan tiap kelompom wajib untuk hunting foto sesuai dengan tema yang sudah ditentukan. “ Menghunting fotonya tidak sembarangan harus lulus kurasi terlebih dahulu barulah nantinya bisa dipamerkan kepada masyarakat Rantau Jaya”, Ujar Yovia Rizki Arrahman(15).

            Setiap anggota kelompok bebas untuk memilih ide foto yang penting sesuai dengan tema yang sudah ditentukan. “Saya memilih benteng-bentengan karena menurut saya benteng-bentengan itu merupakan
permainan yang sangat menarik, permainan ini terdiri dari dua kelompok. Masing-masing harus menjaga bentengnya masing-masing, biasanya pake tongkat yang ditancapkan di tanah. Diantara kedua kelompok ini, harus mendapatkan tawanan, dengan cara anggota kelompoknya maju ke arena, dan barang siapa yang baru datang ke arena, dia dapat menawan lawannya yang lebih dulu datang ke arena. Jika si lawan tidak mau ditawan, maka dia harus menghindar dan kembali dulu ke benteng, kemudian balik lagi ke arena, agar ia bisa menawan lawannya. Di bentengnya sendiri tidak boleh kosong, supaya benteng tidak direbut lawan. Ada pembagian tugas, siapa yang pergi mencari tawanan atau merebut benteng, atau siapa yang menjaga bentengnya sendiri”, jelaskan salah satu anggota.

            Pada acara pembukaan, para tamu yang hadir disuguhi penampilan mengenai permainan dan olahraga tradisional. Sayangnya, tempat duduk yang disediakan kurang sehingga ada tamu yang menyaksikan acara dengan berdiri. Tetapi para tamu tetap menikmati acara, ditemani makanan kecil yang disuguhkan cuma-cuma. “Pameran ini dapat terlaksana dengan baik tak lepas dari kerja keras dan usaha para panitia serta para anggota, yang merupakan siswa siswi SMA N 1 Belitang Angkatan 2010. Dengan pakaian batik, mereka melayani tamu yang hadir karena yang kerja anak-anak baru, jadi komunikasi masih kurang Tapi sayangnya kerja sama antar panitia masih kurang”, ujar Yovia selaku ketua pelaksanaan pameran.

`Walaupun masih belum bisa memuaskan  masyarakat Rantau jaya, tetapi siswa siswi SMA N 1 Belitang memberik kesan yang menarik bagi para tamu yang hadir. Dengan mengambil tema-tema  yang tengah terjadi di masyarakat, pameran foto yang diadakan jauh lebih menggugah sisi emosional dan sosial. Semoga dengan diadakannya pameran serta sosialisasi mengenai olahraga dan permainan tradisional ini dapat mengunggah kesadaran masyarakat dan khususnya untuk anak-anak  akan serunya permainan tradisional dan olahraga tradisional itu.

            Terakhir Yovia Rizki Mengatakan,”Betapa Indahnya olahraga tradisional yang ada di negeri kita ini, jadi sangatlah rugi apabila kita tidak melestarikan apa yang sudah ada pada negeri kita ini. Cukup dengan di lakukan langsung dalam kehidupan sehari-hari agar anak cucu kita terus mencintai budaya permainan tradisional dan olahraga tradisional agar tidak tersihir oleh permainan teknologi.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar